Kebanyakan dari kita menganggap enteng sampah, bahkan kepada orang orang pemungut sampah (pemulung). Selain itu kita juga terkadang memandang rendah kepada pedagang jual-beli barang bekas atau rongsokan sisa perabotan dan peralatan rumah tangga seperti ; Besi, Aluminium, Timah, Tembaga, Plastik, Karton, Duplek, Koran, Kertas HVS, Kaleng dan sebagainya.
Pernahkah kalian berfikir disebalik penampilan nya?
Saatnya kita harus berfikir dan menghayati terlebih dahulu tentang betapa sulitnya persoalan sampah jika sudah tidak terkelola dengan baik, mungkin kita sudah mengetahui tetapi seolah-olah tidak tahu.
Misalnya ; sampah anorganik, yang mana sampah tersebut butuh waktu lama untuk bisa mengurai bahkan bisa merusak lingkungan oleh zat kimia yang terkandung di dalamnya.
Pernahkah kalian berfikir disebalik penampilan nya?
Saatnya kita harus berfikir dan menghayati terlebih dahulu tentang betapa sulitnya persoalan sampah jika sudah tidak terkelola dengan baik, mungkin kita sudah mengetahui tetapi seolah-olah tidak tahu.
Misalnya ; sampah anorganik, yang mana sampah tersebut butuh waktu lama untuk bisa mengurai bahkan bisa merusak lingkungan oleh zat kimia yang terkandung di dalamnya.
Mungkin di daerah kalian sampah belum menjadi topik dan permasalahan utama, tapi sebaiknya kita jangan lengah. Karena kota-kota besar seperti Jakarta yang megah, canggih dan modern saat ini harus berfikir dan bekerja keras untuk mengantisipasi tumpukan sampah yang mencapai ribuan ton perhari nya.
Sedangkan kan untuk sekelas kota Bengkalis saja sudah mencapai 25 hingga 28 Ton perhari, tentunya masih banyak sampah yang dibuang sembarangan tempat atau melalui proses pembakaran oleh kita di luar TPA.
Tentunya cara seperti ini harus kita kurangi bahkan harus kita hilangkan mulai sekarang.
Sedangkan kan untuk sekelas kota Bengkalis saja sudah mencapai 25 hingga 28 Ton perhari, tentunya masih banyak sampah yang dibuang sembarangan tempat atau melalui proses pembakaran oleh kita di luar TPA.
Tentunya cara seperti ini harus kita kurangi bahkan harus kita hilangkan mulai sekarang.
Saat ini kita patut bangga kepada pemerhati sampah seperti pemulung dan pedagang rongsokan tersebut, karena mereka adalah aktivis lingkungan yang barangkali tidak mendapat perhatian khusus dari pihak berwajib namun tetap beraktivitas menyelamatkan lingkungan.
Alhasil, secara langsung pembuangan sampah ke TPA sedikit berkurang dan mereka juga bisa mendapatkan nilai ekonomis dari sampah tersebut. Bahkan diantara mereka bisa memenuhi seluruh biaya kebutuhan rumah tangga nya dari kegiatan tersebut. Mulai dari pangan, sandang, dan biaya pendidikan anak hingga ke perguruan tinggi, salut buat mereka bukan!
Barangkali kita tidak bisa melakoni seperti mereka, dikarenakan kita mempunyai kegiatan atau pekerjaan lain yang membatasi waktu kita untuk itu. Namun, paling tidak kita bisa melakukan hal kecil yang secara tidak langsung itu tidak terlepas di rumah tangga kita. Dimana kita adalah bagian terkecil dari penghasil sampah tersebut, yakni memilah sampah, mengolah dan membuang sampah pada tempat yang semestinya.
Terutama sampah Plastik yang sangat membahayakan, yang saat ini menjadi permasalahan global dan menjadi konsentrasi dunia.
Dimana kita masyarakat banyak menggunakan plastik dalam kehidupan sehari-hari yang semakin masif.
Perlu kita ketahui penggunaan plastik bisa mengancam lingkungan seperti kehidupan biota-biota laut dan plankton, karena sulit terurai dalam jangka ratusan tahun.
Saatnya kita sadar, bahwa sampah bisa menjadi pembunuh bagi manusia. Tragedi longsornya sampah yang menggunung di Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam, mengingatkan kita betapa bisa berbahayanya sampah bagi kehidupan manusia. Hingga, setiap tanggal 21 Februari, ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN)
Untuk itu, mari kita memilah sampah, mengolah dan membuang sampah pada tempat yang semestinya.
Alhasil, secara langsung pembuangan sampah ke TPA sedikit berkurang dan mereka juga bisa mendapatkan nilai ekonomis dari sampah tersebut. Bahkan diantara mereka bisa memenuhi seluruh biaya kebutuhan rumah tangga nya dari kegiatan tersebut. Mulai dari pangan, sandang, dan biaya pendidikan anak hingga ke perguruan tinggi, salut buat mereka bukan!
Barangkali kita tidak bisa melakoni seperti mereka, dikarenakan kita mempunyai kegiatan atau pekerjaan lain yang membatasi waktu kita untuk itu. Namun, paling tidak kita bisa melakukan hal kecil yang secara tidak langsung itu tidak terlepas di rumah tangga kita. Dimana kita adalah bagian terkecil dari penghasil sampah tersebut, yakni memilah sampah, mengolah dan membuang sampah pada tempat yang semestinya.
Terutama sampah Plastik yang sangat membahayakan, yang saat ini menjadi permasalahan global dan menjadi konsentrasi dunia.
Dimana kita masyarakat banyak menggunakan plastik dalam kehidupan sehari-hari yang semakin masif.
Perlu kita ketahui penggunaan plastik bisa mengancam lingkungan seperti kehidupan biota-biota laut dan plankton, karena sulit terurai dalam jangka ratusan tahun.
Saatnya kita sadar, bahwa sampah bisa menjadi pembunuh bagi manusia. Tragedi longsornya sampah yang menggunung di Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005 silam, mengingatkan kita betapa bisa berbahayanya sampah bagi kehidupan manusia. Hingga, setiap tanggal 21 Februari, ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN)
Untuk itu, mari kita memilah sampah, mengolah dan membuang sampah pada tempat yang semestinya.

Komentar
Posting Komentar